Senin, 24 Maret 2014

EPIDEMIOLOGI - Frekuensi MK terkait Herpes Zoster


  Masalah kesehatan wabah herpes zoter dengan sudut pandang epidemiologi

Herpes zoster (nama lain: shingles atau cacar ular cacar api) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Setelah seseorang menderita cacar air, virus varicella-zoster akan menetap dalam kondisi dorman (tidak aktif atau laten) pada satu atau lebih ganglia (pusat saraf) posterior. Apabila seseorang mengalami penurunan imunitas seluler maka virus tersebut dapat aktif kembali dan menyebar melalui saraf tepi ke kulit sehingga menimbulkan penyakit herpes zoster. Di kulit, virus akan memperbanyak diri (multiplikasi) dan membentuk bintil-bintil kecil berwarna merah, berisi cairan, dan menggembung pada daerah sekitar kulit yang dilalui virus tersebut. Herper zoster cenderung menyerang orang lanjut usia dan penderita penyakit imunosupresif (sistem imun lemah) seperti penderita AIDS, leukemia, lupus, dan limfoma.

Penyelesaian penyakit herpes zoster menurut epidemiologi ada 3 hal:
a.       Frekuensi masalah kesehatan
Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara pria dan wanita. Angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Diperkirakan terdapat antara 1,3-5 per 1000 orang per tahun. Lebih dari 2/3 kasus berusia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% kasus berusia di bawah 20 tahun. Neuralgia pasca herpetic dapat timbul pada umur di atas 40 tahun, persentasenya 10-15 %. Makin tua penderita makin tinggi persentasenya.
Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi. Sebaliknya pada yang disertai defisiensi imunitas, infeksi HIV, keganasan, atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel sering menjadi ulkus dengan jaringan nekrotik. Pada herpes zoster oftalmikus dapat terjadi berbagai komplikasi, diantaranya ptosis paralitik, keratitis, skleritika, korioretinitis, dan neuritis optic.
Paralisis motorik terdapat pada 1-5% kasus, yang terjadi akibat penjalaran virus secara per kontiunitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan. Paralisis biasanya timbul dalam 2 minggu sejak awitan munculnya lesi. Berbagai paralisis dapat terjadi, misalnya di muka, diafragma, batang tubuh ekstremitas, dan vesika. Umumnya akan sembuh spontan.
Siapapun yang telah sembuh dari cacar air dapat terkena herpes zoster. Termasuk anak-anak. Namun, herpers zoter paling sering pada orang dengan umur 50 tahun atau lebih. Risiko terkena herpes zoter meningkat dengan bertambahnya usia.
Daerah yang paling sering terkena adalah daerah torakal, walaupun daerah-daerah lain tidak jarang. Sebelum timbul gejala kulit, terdapat gejala prodromal baik sistemik (demam, malese, pusing), maupun gejala prodromal lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal). Lebih dari 80% biasanya diawali dengan gejala prodromal, gejala tersebut umumnya berlangsung beberapa hari sampai 3 minggu sebelum muncul lesi kulit. Gambaran yang paling khas pada herpes zoster adalah erupsi yang lokalisata dan hampir selalu unilateral. Jarang erupsi tersebut melewati garis tengah tubuh.

Minggu, 23 Maret 2014

EPIDEMIOLOGI-Definisi Sehat Menurut WHO




Definisi Sehat Menurut WHO
“Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity” yang mempunyai arti “Kesehatan adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”.

Menurut WHO, ada empat komponen utama yang disebut satu kesatuan dalam pengertian sehat yaitu :

1. Sehat Jasmani
Sehat jasmani adalah komponen utama dalam makna sehat sepenuhnya, berbentuk sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bercahaya, rambut tersisir rapi, kenakan pakaian rapi, berotot, tak gemuk, nafas tak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit serta semua manfaat fisiologi badan jalan normal.

 2. Sehat Mental
Sehat Mental serta sehat jasmani senantiasa dikaitkan keduanya dalam pepatah kuno Men Sana In Corpore Sano yang berarti Jiwa yang sehat ada didalam badan yang sehat.

3. Kesejahteraan Sosial
Batasan kesejahteraan sosial yang ada di tiap-tiap area atau negara susah diukur serta benar-benar bergantung pada kultur, kebudayaan serta tingkat kemakmuran penduduk setempat. Dalam makna yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial yaitu situasi kehidupan berbentuk perasaan aman damai serta sejahtera, cukup pangan, sandang serta papan. Dalam kehidupan penduduk yang sejahtera, penduduk hidup teratur serta senantiasa menghormati kebutuhan orang lain dan penduduk umum.

 4. Sehat Spiritual
Spiritual adalah komponen penambahan pada pengertian sehat oleh WHO serta mempunyai makna utama dalam kehidupan keseharian penduduk. Tiap-tiap individu butuh memperoleh pendidikan resmi ataupun informal, peluang untuk liburan, mendengar alunan lagu serta musik, siraman rohani seperti ceramah agama serta yang lain supaya berlangsung keseimbangan jiwa yang dinamis serta tak monoton.

Sumber : Wikipedia, Web WHO, blog.

EPIDEMIOLOGI - Teori Terjadinya Penyakit


Teori Terjadinya Penyakit

  • Definisi Penyakit Secara Umum
Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi, atau kesukaran terhadap orang yang dipengaruhinya. Penyakit adalah keadaan yang bersifat objektif sedangkan rasa sakit adalah keadaan yang bersifat subjektif. Seseorang yang menderita penyakit belum tentu merasa sakit, sebaliknya tidak jarang ditemukan seseorang yang selalu mengeluh sakit padahal tidak ditemukan penyakit apapun pada dirinya (Azrul Azwar, 1988:18).

  • Teori-Teori Terjadinya Penyakit
1.      Contagion theory
Di Eropa, epidemi sampar, cacar, dan demam tifus merajalela pada abad 14 dan 15. Pada saat itu mendorong lahirnya teori bahwa kontak dengan makhluk hidup adalah penyebab penyakit menular. Konsep itu dirumuskan oleh Girolamo Fracastoro (1483-1553). Teorinya mengatakan bahwa penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui zat penular, yaitu kantagion. Disebut juga teori cara penularan penyakit melalui zat penular. Konsep kontagion muncul pada abad XVI oleh Giralomo Fracastoro (1478-1553). Fracastoro dikenal sebagai salah satu perintis epidemiologi, ia juga dikenal sebagai seorang sastrawan yang terkenal di mana salah satu tokoh pelakunya bernama syphilis, yang hingga sekarang digunakan menjadi nama suatu penyakit kelamin.
Teori mengemukakan bahwa untuk terjadinya penyakit diperlukan kontak antara satu orang dengan orang yang lainnya. Fracastoro membedakan tiga jenis kontangion, yaitu:
1.      Jenis kontangion yang dapat menular melalui kontak langsung misalnya bersentuhan, berciuman, hubungan seksual
2.      Jenis kontangion yang menular melalui benda-benda perantara (benda tersebut tidak tertular, namun mempertahankan benih dan kemudian menularkan pada orang lain) misalnya melalui pakaian, handuk, sapu tangan
3.      Jenis kontangion yang dapat menularkan dalam jarak jauh
Menurut konsep ini sakit terjadi karena adanya proses kontak bersinggungan dengan sumber penyakit. Dapat dikatakan pada masa ini telah ada pemikiran adanya konsep penularan. Pada waktu itu orang belum mengenal kuman atau bakteri, namun mekanisme cara penularan menurut contagion tersebut mirip dengan cara yang dikenal sekarang dalam era bakteriologi. Misalnya dengan contagion dikenal cara penularan melalui kontak langsung (bersentuhan, berciuman, hubungan sex dll), melalui benda perantara (pakaian, sapu tangan, handuk dll) dan melalui udara (jarak jauh)
Teori ini tentu dikembangkan berdasarkan teori penyakit pada masa itu dimana penyakit yang melanda kebanyakan adalah penyakit yang menular yang terjadi adanya kontak langsung. Teori ini bermula dari pengamatan terhadap epidemic dan penyakit lepra di Mesir. Namun teori ini pada jamannya tidak diterima dan tidak berkembang.

2.      Hippocratic theory
Zaman Hippocrates (460-377 SM). Ia dianggap bapak epidemiologi pertama, karena beliaulah yang pertama-tama melihat bahwa penyakit merupakan fenomena massal dan menulis tiga buah buku tentang epidemi. Ia juga menguraikan bahwa penyakit bervariasi atas dasar waktu dan tempat sehingga pada saat itu  ia sebetulnya sudah tahu adanya pengaruh faktor alam/lingkungan yang ikut menentukan terjadinya penyakit.
Dapat juga dikatakan bahwa beliau sudah dapat melihat bahwa frekuensi penyakit terdistribusi tidak merata atas dasar berbagai faktor seperti waktu, tempat, atribut orang, dan atau faktor lingkungan lainya. Faktor-faktor sedemikian, yakni yang ikut mempengaruhi terjadinya penyakit, tetapi bukan penyebabnya, disebut faktor determinan atau faktor penentu(Juli Soemirat, 2010:23-24). Jadi Teory Hypocrates menyebutkan, bahwa timbulnya penyakit karena pengaruh Iingkungan terutama: air, udara, tanah, cuaca (tidak dijeIaskan kedudukan manusia dalam Iingkungan).

3.      Miasmatic theory
Teori Miasma, penyakit timbul karena sisa dari mahkluk hidup yang mati membusuk, meninggalkan pengotoran udara dan Iingkungan. William far menyebutkan bahwa miasma itu uap jasad renik yang membusuk. Hampir sama dengan Hippocratic teori, miasmatic teori menunjukkan gas gas busuk dari perut bumi yang menjadi kausa penyakit. Menurut teori ini penyakit timbul karena sisa dari mahkluk hidup yang mati membusuk, meninggalkan pengotoran udara dan Iingkungan.
            Teori Miasma Hippocrates menjelaskan bahwa penyakit terjadi karena “keracunan” oleh zat kotor yang berasal dari tanah, udara, dan air. Karena itu upaya untuk mencegah epidemi penyakit dilakukan dengan cara mengosongkan air kotor, membuat saluran air limbah, dan melakukan upaya sanitasi (kebersihan). Teori Miasma terus digunakan sampai dimulainya era epidemiologi modern pada paroh pertama abad kesembilan belas (Susser dan Susser, 1996a).
            Teori ini punya arah yang lebih spesifik , namun kurang mampu untuk menjawab pertanyaan berbagai penyakit. Teori miasma ini mulai berkembang pada awal abad ke 18 yaitu pada masa revolusi industri di Inggris, ketika terjadi wabah kholera di aliran sungai Thames. Pada waktu itu orang percaya bahwa bila seseorang menghirup uap busuk, maka ia akan terjangkit penyakit.
            Contoh pengaruh teori miasma adalah timbulnya penyakit malaria. Malaria berasal dari bahasa Italia mal dan aria yang artinya udara yang busuk. Pada masa yang lalu malaria dianggap sebagai akibat sisa-sisa pembusukan binatang dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa. Penduduk yang bermukim di dekat rawa sangat rentan untuk terjadinya malaria karena udara yang busuk tersebut.

4.      Germ theory
       Teori ini dikemukakan oleh John Snow (1813-1858), seorang dokter ahli anestesi dari Inggris. Ia berhasil membuktikan adanya hubungan antara timbulnya penyakit kholera dengan sumber air minum penduduk. Dari hasil perhitungan ini di kemukakan kesimpulan bahwa air minum yang tercemar dengan tinja manusia adalah penyebab timbulnya penyakit kholera. Kesimpulan ini diambil tanpa mengetahui adanya kuman kholera, karena pengetahuan tentang pengetahuan ini baru kemudian muncul. Pada teori ini jasad renik (germ) dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit (Azrul Azwar, 1988:18).

  •  TEORI EKOLOGI LINGKUNGAN
1.      Model Gordon
Teori ini di kemukakan oleh John Gordon pada tahun 1950 dan dinamakan model Gordon sesuai dengan nama pencetusnya. Model gordon ini menggambarkan terjadinya penyakit pada masyarakat, ia menggambarkan terjadinya penyakit sebagai adanya sebatang pengungkit yang mempunyai titik tumpu di tengah-tengahnya, yakni lingkungan (L). Pada kedua ujung batang tadi terdapat pemberat, yakni A, H. Dalam model ini A, H dan L dianggap sebagai tiga elemen utama yang berperan dalam interaksi ini, sehingga terjadi keadaan sehat ataupun sakit, dimana :
A = agent/penyebab penyakit
B = host/populasi berisiko tinggi, dan
C = lingkungan
            Interaksi di antara tiga elemen tadi terlaksana karena adanya faktor penentu pada setiap elemen. Model ini mengatakan bahwa apabila pengungkit tadi berada dalam keseimbangan, maka dikatakan bahwa masyarakat berada dalam keadaan sehat.

2.    The wheel of causation (Teori Roda)
Model ini menggambarkan hubungan manusia dan lingkungannya sebagai roda. Roda tersebut terdiri atas manusia dengan substansi genetik pada bagian intinya dan komponen lingkungan biologi, sosial, fisik mengelilingi penjamu. Ukuran komponem roda bersifat relatif, tergantung problem spesifik penyakit yang bersangkutan.
Teori ini merupakan pendekatan lain untuk menjelaskan hubungan antara manusia dan lingkungan. Roda terdiri daripada satu pusat (pejamu atau manusia) yang memiliki susunan genetik sebagai intinya. Disekitar pejamu terdapat lingkungan yang dibagi secara skematis ke dalam 3 sektor yaitu lingkungan biologi, sosial dan fisik.
Untuk penyakit-peyakit bawaan (herediter) inti genetik relatif lebih besar. Untuk kondisi tertentu seperti campak, inti genetik relatif kurang penting oleh karena keadaan kekebalan dan sektor biologi lingkungan yang paling berperanan. Pada model roda, mendorong pemisahan perincian faktor pejamu dan lingkungan, yaitu suatu perbedaan yang berguna untuk analisa epidemiologi.

3.    The web of causation (jaring-jaring sebab akibat)
Teori jaring-jaring sebab akibat ini ditemukan oleh Mac Mohan dan Pugh (1970). Teori ini sering disebut juga sebagai konsep multi factorial. Dimana teori ini menekankan bahwa suatu penyakit terjadi dari hasil interaksi berbagai factor. Misalnya factor interaksi lingkungan yang berupa factor biologis, kimiawi dan social memegang peranan penting dalam terjadinya penyakit.
            Hakikat konsep ini adalah efek yang terjadi tidak tergantung kepada penyebab-penyebab yang terpisah secara mandiri, tetapi lebih merupakan perkembangan sebagai suatu akibat dari suatu rangkaian sebab-akibat, dimana setiap hubungan itu sendiri hasil dari silsilah (geneologi) yang mendahuluinya dan yang kompleks (complex geneology of antecenden).
Suatu penyakit tidak tergantung kepada penyebab yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab akibat. Penyakit juga dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong mata rantai di berbagai faktor. Contoh: Jaringan sebab akibat yang mendasari penyakit jantung koroner (PJK) dimana banyak faktor yang merupakan menghambat atau meningkatkan perkembangan penyakit.






DAFTAR PUSTAKA

            Azwar, Azrul. Pengantar Epidemiologi. Binarupa Aksara.
            Timmreck, Thomas C. Epidemiologi Suatu Pengantar. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
            Chandra, Budiman. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran EGC.